Pelajaran dari Dakwah Nabi Nuh Alaihis Salam
Pelajaran dari Dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 7 Sya’ban 1447 H / 26 Januari 2026 M.
Kajian Tentang Pelajaran dari Dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam
Seruan Tauhid Nabi Nuh ‘Alaihis Salam
Poin pertama yang mendasar adalah sesungguhnya semua rasul, mulai dari Nabi Nuh ‘Alaihis Salam hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sepakat dalam mendakwahkan tauhid yang murni dan melarang kesyirikan.
Inilah dakwah para rasul tanpa pengecualian. Mereka mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Larangan berbuat syirik disampaikan dengan tegas karena konsekuensi dari perbuatan tersebut adalah azab neraka. Orang yang berbuat syirik dan tidak bertobat hingga akhir hayatnya akan kekal di dalam neraka selama-lamanya.
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berkata kepada kaumnya sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an:
اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan bagimu selain Dia.” (QS. Hud[11]: 50)
Seruan ini sangat tegas memerintahkan manusia untuk hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam ayat lain, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam kembali menegaskan:
أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ
“Sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatilah aku.” (QS. Nuh[71]: 3)
Keumuman Dakwah Para Rasul
Dakwah tauhid merupakan inti ajaran seluruh nabi dan rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya[21]: 25)
Demikian pula dalam surat An-Nahl, Allah ‘Azza wa Jalla menyatakan bahwa setiap umat telah diutus seorang rasul dengan misi yang sama:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (QS. An-Nahl[16]: 36)
Setiap dai wajib meniti jalan para nabi dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika seseorang ingin mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka materi dakwah utamanya haruslah tauhid. Dakwah yang tidak mengedepankan tauhid berarti tidak mengikuti manhaj para nabi dan rasul.
Jalan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku mengajak (kamu) kepada Allah di atas ilmu (yang nyata), aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik’.” (QS. Yusuf[12]: 108)
Prinsip ini pula yang dipegang teguh oleh para sahabat. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau menekankan bahwa materi pertama yang harus disampaikan kepada Ahli Kitab adalah tauhid. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
“Maka hendaknya yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaha illallah dan Muhammad Rasulullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Integritas Dai: Tidak Mengharap Harta Dunia
Pelajaran penting kedua adalah kewajiban bagi para da’i untuk tidak mengharapkan apa yang ada di tangan manusia, baik berupa harta maupun imbalan duniawi yang fana. Seorang da’i tidak boleh mencari keuntungan materi dari jamaahnya atau memasang tarif tertentu atas dakwahnya. Semua nabi telah mencontohkan integritas ini dengan hanya mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berkata kepada kaumnya:
وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ
“Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepadamu sebagai imbalan (atas dakwahku). Imbalanku hanyalah dari Allah.” (QS. Hud[11]: 29)
Prinsip yang sama ditegaskan oleh nabi-nabi lainnya dalam Al-Qur’an:
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas pemenuhan (tugas) itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 109)
Para sahabat pun menunjukkan pengorbanan yang luar biasa. Mus’ab bin Umair, seorang pemuda kaya yang harum namanya, meninggalkan segala kemewahannya demi Islam. Ia diutus menjadi duta dakwah ke Madinah dan wafat di Perang Uhud dalam keadaan syahid yang sangat bersahaja; kain kafannya tidak cukup untuk menutup seluruh tubuhnya. Mereka mengorbankan keringat, darah, dan harta demi tegaknya agama ini, bukan untuk mencari keuntungan materi atau mematok tarif kajian yang fantastis seperti fenomena yang terkadang terjadi saat ini.
Kesabaran dalam Berdakwah
Pelajaran ketiga yang dapat diambil dari perjalanan dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah kesabaran yang tidak bertepi. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mendakwahi kaumnya siang dan malam, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, serta dengan metode targhib (memberi kabar gembira) maupun tarhib (memberi peringatan).
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam tetap teguh dalam dakwahnya selama 950 tahun tanpa mengenal lelah atau bosan. Kesabaran dalam menghadapi penolakan dan cemoohan kaumnya menjadi teladan abadi bagi setiap dai yang mengajak manusia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Meskipun berdakwah hampir seribu tahun, jumlah pengikut beliau sangat sedikit, bahkan menurut sebagian ulama tidak sampai seratus orang. Saat azab akan diturunkan, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam diperintahkan membuat perahu. Menariknya, insting binatang justru lebih patuh untuk masuk ke dalam perahu dibandingkan akal manusia yang telah sakit karena kesyirikan. Binatang menuruti seruan beliau untuk menyelamatkan diri, sementara mayoritas manusia justru menolak. Hal ini menunjukkan bahwa insting yang lurus pada binatang lebih utama daripada akal manusia yang menyimpang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai masa dakwah beliau:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-Ankabut[29]: 14)
Metode Dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam
Terdapat beberapa metode (asalib) yang digunakan oleh Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dalam mendakwahi kaumnya:
1. Metode pertama; Menegaskan Status sebagai Utusan Allah
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memberikan kabar kepada kaumnya bahwa beliau adalah Rasul utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bertugas menyampaikan risalah dan nasihat. Ketika kaumnya menuduh beliau sesat, beliau menjawab dengan santun:
يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ . أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Wahai kaumku! Tidak ada kesesatan padaku, tetapi aku adalah seorang rasul dari Tuhan seluruh alam. Aku menyampaikan kepadamu risalah-risalah Tuhanku, memberikan nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf[7]: 61-62)
2. Metode kedua; Tidak Menuntut Imbalan Materi
Dalam berdakwah, beliau menegaskan bahwa tidak ada tuntutan harta atau upah duniawi apa pun. Dakwah beliau murni karena perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak membebani kaumnya secara finansial. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai perkataan beliau:
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas pemenuhan (tugas) itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 109)
3. Metode ketiga; Menekankan Kebahagiaan Akhirat sebagai Tujuan Utama Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menyampaikan bahwa beliau tidak menjanjikan harta kekayaan kepada orang-orang yang menerima dakwahnya. Seorang dai sejati tidak menjanjikan keuntungan materi duniawi kepada pengikutnya, apalagi melakukan penipuan dengan kedok dakwah seperti modus perumahan Islami yang fiktif. Beliau hanya mengajak mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat melalui ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang hal ini:
وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ ۖ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku memiliki perbendaharaan Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak mengatakan bahwa aku ini malaikat. Aku juga tidak mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu bahwa Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya aku, jika demikian, benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Hud[11]: 31)
4. Metode Keempat; memberikan peringatan agar kaumnya bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Peringatan ini disampaikan dengan dua cara:
Metode Anjuran (Al-Hard): Beliau bertanya untuk menggugah kesadaran mereka, sebagaimana firman Allah:
إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ
“Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?`” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 106)
Metode Perintah (Al-Amr): Beliau memerintahkan mereka secara langsung untuk bertakwa dan taat:
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 108)
5. Metode kelima; penggunaan targhib (memberikan motivasi) berupa janji-janji kebaikan jika mereka beriman. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menjanjikan keberkahan hidup bagi mereka yang mau beristighfar kepada Allah ‘Azza wa Jalla:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu’.” (QS. Nuh[71]: 10-12)
6. Metode keenam; menakut-nakuti dengan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala jika mereka tetap dalam kekafiran. Beliau sangat mengkhawatirkan keselamatan kaumnya:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat)’.” (QS. Al-A’raf[7]: 59)
7. Metode ketujuh; mengingatkan kaumnya akan nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau mengarahkan pandangan kaumnya kepada makhluk-makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menunjukkan keesaan-Nya, dengan harapan mereka bertaubat dari kesyirikan dan bangkit dari kelalaian.
Metode ketujuh ini didasari oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا . وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا . وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا . ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا . وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا . لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan Dia menjadikan matahari sebagai pelita (yang terang)? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur), kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas.” (QS. Nuh[71]: 15-20)
Perjalanan hidup manusia bermula dari tanah melalui penciptaan Nabi Adam ‘Alaihis Salam, yang kemudian diteruskan melalui setetes mani hingga akhirnya dikembalikan ke dalam tanah dan dibangkitkan kembali. Kesadaran akan siklus ini menunjukkan bahwa tidak ada yang patut dibanggakan di dunia. Harta hanya akan bermanfaat jika disedekahkan, dizakati, dan digunakan untuk amal saleh.
Nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi setiap bagian tubuh, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kesehatan mata, telinga, hingga kemampuan untuk duduk dan makan adalah anugerah besar. Nilai kesehatan tersebut seringkali baru disadari saat seseorang melihat penderitaan pasien di rumah sakit. Bahkan, fungsi tubuh yang tampak sederhana seperti kemampuan membuang angin (kentut) merupakan nikmat yang sangat mahal; tanpa kemampuan tersebut, tubuh akan menderita sakit yang memerlukan biaya pengobatan tinggi. Segala sesuatu yang ada pada tubuh maupun di luar tubuh adalah nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla yang wajib disyukuri.
8. Metode Kedelapan: Dakwah Tanpa Henti dan Kesabaran. Ini adalah kegigihan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dalam berdakwah selama 950 tahun tanpa mengenal rasa bosan atau lemah, meskipun beliau tidak mendapatkan imbalan materi. Beliau berdakwah siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai penolakan kaumnya:
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا . فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا . وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا . ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا . ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا
“Dia (Nuh) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (membangkang) dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan. Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam’.” (QS. Nuh[71]: 5-9)
Peringatan Terhadap Sikap Ghuluw Kepada Orang Saleh
Pelajaran keempat dari kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah peringatan agar berhati-hati terhadap sikap ghuluw, yaitu sikap berlebih-lebihan dalam mencintai orang-orang saleh. Mencintai orang saleh merupakan sebuah tuntutan dan kebaikan dalam agama, namun kecintaan tersebut tidak boleh melampaui batas hingga terjatuh pada sikap ekstrem.
Kaum Nabi Nuh terjatuh ke dalam kesyirikan justru disebabkan oleh sikap ghuluw terhadap orang-orang saleh. Ketika Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mendakwahi mereka, mereka saling berpesan untuk tidak meninggalkan sesembahan mereka:
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata, ‘Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’.” (QS. Nuh[71]: 23)
Kelima nama tersebut awalnya adalah orang-orang saleh yang hidup di antara masa Nabi Adam dan Nabi Nuh. Mereka memiliki pengikut yang meneladani kesalehannya. Ketika mereka wafat, para pengikutnya merasa rindu dan ingin tetap semangat beribadah dengan cara mengenang mereka. Bisikan hawa nafsu pun muncul untuk membuat gambar atau patung tokoh-tokoh saleh tersebut dengan alasan agar lebih bersemangat dalam beribadah saat melihatnya.
Setelah generasi pertama wafat dan muncul generasi berikutnya yang tidak memahami tujuan awal pembuatan gambar tersebut, Iblis mulai membisikkan was was. Iblis memanipulasi ingatan mereka dengan mengatakan bahwa mereka dahulu menyembah patung-patung tersebut dan melalui perantara itulah hujan turun. Akhirnya, patung-patung orang saleh itu pun disembah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan keras mengenai perilaku semacam ini:
أُولَئِكَ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ
“Mereka itu, apabila ada orang saleh di antara mereka yang meninggal, mereka membangun masjid (tempat ibadah) di atas kuburannya dan membuat gambar-gambar tersebut di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga melarang umatnya memberikan sanjungan yang melampaui batas kepada dirinya:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian menyanjungku berlebih-lebihan sebagaimana orang-orang Nasrani menyanjung (Isa) Ibnu Maryam secara berlebihan. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Bukhari)
Larangan Ghuluw kepada Ustadz dan Dai
Sikap ghuluw kepada ustadz atau dai merupakan jalan menuju penyimpangan dan kesesatan. Tidak diperbolehkan mengkultuskan seorang guru seakan-akan tidak ada guru lain selain dirinya. Fenomena menganggap kedekatan dengan ustadz sebagai kebanggaan yang harus ditebus dengan biaya mahal, seperti membayar jutaan rupiah hanya untuk sekedar makan bersama, merupakan bentuk sikap berlebih-lebihan yang tidak dibenarkan.
Hidayah datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan dari manusia. Oleh karena itu, kekaguman dan pengagungan yang sempurna hanya boleh ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Pelajaran dari Dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56025-pelajaran-dari-dakwah-nabi-nuh-alaihis-salam/